Panduan metodologi pemupukan berimbang

Memahami status hara untuk menyusun rekomendasi pemupukan secara terukur.

Halaman ini menjelaskan dasar ilmiah yang digunakan untuk membaca status hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), menentukan kebutuhan pupuk berdasarkan komoditas dan target hasil, serta menghitung kebutuhan pupuk menurut luas lahan. Dua pendekatan disajikan, yaitu acuan Permentan No. 13 Tahun 2022 dan pendekatan keseimbangan hara yang mengacu pada prinsip FAO. Hasil perhitungan merupakan rekomendasi awal yang tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan.

3
cara penggunaan
Kalkulator Sederhana, Analisis Pro, dan WebGIS Status Hara.
42
komoditas pada kalkulator
Mencakup tanaman pangan, sayuran, buah, perkebunan/industri, serta hijauan dan pakan.
5
kelas status hara
Sangat Rendah, Rendah, Sedang, Tinggi, dan Sangat Tinggi.
2
pendekatan rekomendasi
Acuan Permentan/Kementan dan pendekatan keseimbangan hara beracuan FAO.
Prinsip utama: hasil yang ditampilkan merupakan alat bantu penyusunan rekomendasi. Penetapan dosis akhir tetap perlu mempertimbangkan analisis tanah atau daun, kondisi musim, varietas, target hasil, dan praktik budidaya setempat.
01 · Cara Kerja Sistem

Dari informasi status hara menuju rekomendasi pupuk.

Sistem menyatukan informasi lokasi, luas lahan, dan status hara setiap petak sawah. Data tersebut kemudian digunakan untuk menampilkan kondisi lahan pada peta dan menghitung kebutuhan pupuk sesuai pendekatan yang dipilih pengguna.

Tahap 1Identifikasi lahanPengguna menentukan wilayah atau memilih petak sawah yang akan dianalisis.
Tahap 2Baca status haraSistem menampilkan kelas status nitrogen, fosfor, dan kalium serta luas petak terpilih.
Tahap 3Hitung kebutuhan pupukStatus hara, komoditas, target hasil, dan luas lahan digunakan sebagai dasar perhitungan.
Tahap 4Interpretasi hasilHasil disajikan sebagai dosis per hektare dan kebutuhan total lahan untuk membantu perencanaan pemupukan.
i

Ketepatan lokasi merupakan syarat utama

Setiap petak pada peta harus selalu dipasangkan dengan informasi status hara dan luas lahan yang sesuai. Ketelitian ini penting agar rekomendasi yang ditampilkan benar-benar mewakili petak yang dipilih.

02 · Data Status Hara

Informasi utama yang digunakan untuk membaca kondisi lahan.

Data terbaru yang dianalisis mencakup 803.698 petak sawah pada 34 provinsi, 471 kabupaten/kota, dan 5.482 kecamatan. Setiap petak memuat informasi wilayah, luas, serta kelas status nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Informasi ini menjadi dasar visualisasi peta dan perhitungan kebutuhan pupuk.

Cakupan lahan

803.698 petak sawah

Petak tersebar pada 34 provinsi, 471 kabupaten/kota, dan 5.482 kecamatan dalam data terbaru yang dianalisis.

Status hara

Lima tingkat kesuburan

Setiap unsur N, P, dan K dikelompokkan menjadi Sangat Rendah, Rendah, Sedang, Tinggi, atau Sangat Tinggi.

Luas lahan

7.463.896,846 ha

Luas petak digunakan untuk mengubah dosis per hektare menjadi kebutuhan pupuk total pada lahan yang dipilih.

InformasiMaknaPenggunaanCatatan
Provinsi, kabupaten/kota, kecamatanLokasi administrasi petak sawahMembantu pengguna memilih dan menelusuri wilayahData dapat ditelusuri sampai tingkat kecamatan pada berkas yang dianalisis.
DesaLokasi administrasi yang lebih rinciDigunakan bila informasi desa tersediaInformasi desa belum tersedia pada data yang dianalisis.
Luas lahanLuas setiap petak dalam hektareMenghitung kebutuhan pupuk total per petakNilai luas perlu diperiksa agar lebih dari nol dan sesuai kondisi lapangan.
Status NTingkat ketersediaan nitrogenMembantu penilaian kebutuhan nitrogenDikelompokkan dalam lima kelas status hara.
Status PTingkat ketersediaan fosforMenentukan penyesuaian kebutuhan pupuk fosfatDikelompokkan dalam lima kelas status hara.
Status KTingkat ketersediaan kaliumMenentukan penyesuaian kebutuhan pupuk kaliumDikelompokkan dalam lima kelas status hara.

Sebaran kelas status Nitrogen dan Fosfor

SR
8.386
R
117.969
S
283.402
T
266.060
ST
127.881

Pada data yang dianalisis, jumlah petak pada setiap kelas N dan P tercatat sama. Kesamaan ini perlu dipahami sebagai karakteristik data dan sebaiknya dikonfirmasi terhadap sumber pemetaan sebelum digunakan untuk kajian lebih lanjut.

Sebaran kelas status Kalium

SR
33.523
R
142.048
S
337.550
T
220.092
ST
70.485

Kelas status hara digunakan untuk memudahkan interpretasi. Pada perhitungan yang menggunakan tiga tingkat, Sangat Rendah dan Rendah digabung menjadi “rendah”, Sedang tetap “sedang”, sedangkan Tinggi dan Sangat Tinggi digabung menjadi “tinggi”.

03 · Metode Rekomendasi

Dua pendekatan digunakan untuk membantu menyusun kebutuhan pupuk.

Pendekatan pertama menggunakan acuan Permentan No. 13 Tahun 2022 untuk komoditas yang tercakup. Pendekatan kedua menggunakan prinsip keseimbangan hara yang mengacu pada referensi FAO. Keduanya berfungsi sebagai dasar perhitungan, bukan pengganti penilaian agronomis di lapangan.

Pemetaan status P dan K

Lima kelas status hara disederhanakan menjadi tiga tingkat untuk menentukan dosis fosfor dan kalium:

SR/R → Rendah   |   S → Sedang   |   T/ST → Tinggi
KelasSP-36KCl/MOP
Rendah100 kg/ha100 kg/ha
Sedang75 kg/ha50 kg/ha
Tinggi50 kg/ha50 kg/ha

Nitrogen berbasis target hasil

Kebutuhan Urea pada sistem saat ini diperkirakan dari target hasil tanaman. Nilai ini merupakan estimasi dan belum menggantikan rekomendasi nitrogen spesifik kecamatan yang tercantum dalam acuan resmi.

Padi sawah Target < 5 ton GKG/ha: 200 kg Urea/ha Target 5–6 ton GKG/ha: 250 + 50 × (target − 5) kg Urea/ha Target > 6 ton GKG/ha: maksimum 400 kg Urea/ha
Jagung Perkiraan Urea = 350 × target hasil / 8, dengan kisaran 250–450 kg/ha
Kedelai Kalkulator Sederhana/Pro: perkiraan Urea = 50 × target hasil / 2, dengan kisaran 25–75 kg/ha. WebGIS: perkiraan Urea = 50 × target hasil / 2,5, dengan kisaran 25–75 kg/ha.
!

Ruang lingkup acuan Permentan

Pada sistem ini, jalur Permentan diterapkan secara langsung untuk padi sawah, jagung, dan kedelai. Untuk komoditas lain, hasil yang ditampilkan bersifat pembanding perhitungan dan tidak boleh disebut sebagai dosis resmi Permentan No. 13 Tahun 2022.

Pendekatan keseimbangan hara

Pendekatan ini tidak menggunakan satu dosis pupuk yang dianggap berlaku untuk semua lokasi. Kebutuhan hara disusun dari kebutuhan dasar komoditas, target hasil yang direncanakan, status hara tanah, serta kondisi tanah yang tersedia pada kalkulator.

Kebutuhan hara = kebutuhan dasar komoditas × penyesuaian target hasil × faktor status hara
1,35Sangat rendah
1,15Rendah
1,00Sedang
0,75Tinggi
0,55Sangat tinggi

Penyesuaian target hasil dibatasi pada kisaran 0,75–1,35. Pada kalkulator umum, kondisi pH serta status sulfur (S) dan magnesium (Mg) juga dapat memengaruhi rekomendasi.

Konversi kebutuhan hara menjadi pupuk

Kebutuhan unsur hara diubah menjadi jumlah pupuk berdasarkan kadar hara utama pada masing-masing bahan.

Urea = kebutuhan N ÷ 0,46 SP-36 = kebutuhan P₂O₅ ÷ 0,36 KCl/MOP = kebutuhan K₂O ÷ 0,60 ZA = kebutuhan S ÷ 0,24

Kebutuhan total lahan dihitung dengan mengalikan dosis per hektare dengan luas lahan. Jika ZA digunakan, kontribusi nitrogennya perlu diperhitungkan dalam keseimbangan pupuk.

i

Penyesuaian berdasarkan pH tanah

Untuk pH < 4,8, sistem menggunakan acuan dolomit 1.500 kg/ha dan meningkatkan kebutuhan fosfor sebesar 15%. Pada pH 4,8–<5,5, acuan dolomit 1.000 kg/ha dan peningkatan fosfor 10%. Pada pH > 7,5, pengguna diberi perhatian mengenai potensi rendahnya ketersediaan unsur mikro. Status Mg rendah dapat memerlukan sedikitnya 500 kg/ha dolomit.

AspekKalkulator Sederhana / ProWebGIS Status Hara
Cakupan komoditas42 komoditasPadi sawah, jagung, dan kedelai pada perhitungan peta saat ini
Kelas status haraLima kelas: SR, R, S, T, STTiga kelompok: rendah, sedang, tinggi
Penyesuaian status hara1,35 · 1,15 · 1,00 · 0,75 · 0,551,15 · 1,00 · 0,80
Penyesuaian target hasilKisaran 0,75–1,35Kisaran 0,85–1,20
pH, S, dan MgDapat diperhitungkanBelum digunakan dalam perhitungan berbasis peta
Luas lahanDiisi oleh penggunaMenggunakan luas petak yang dipilih pada peta
Hasil utamaDosis kg/ha, kebutuhan total lahan, komposisi, jadwal, dan catatanDosis kg/ha dan kebutuhan total pupuk per petak
✓

Mengapa hasil kalkulator dan WebGIS dapat berbeda?

Keduanya menggunakan prinsip pemupukan berimbang, tetapi tingkat pengelompokan status hara dan faktor penyesuaian yang digunakan tidak sepenuhnya sama. Karena itu, hasil perlu dibaca sesuai konteks alat yang digunakan dan tidak dibandingkan sebagai angka yang harus selalu identik.

04 · Metode FAO / Praktik Eksisting dan Komoditas

Bagaimana kebutuhan pupuk dihitung, dan komoditas apa yang digunakan?

Bagian ini menjelaskan secara khusus pendekatan keseimbangan hara yang digunakan pada kalkulator, kedudukan praktik pemupukan eksisting sebagai bahan pembanding, serta daftar komoditas dan nilai awal yang menjadi dasar perhitungan. Penjelasan ini penting agar pengguna memahami bahwa angka yang muncul merupakan hasil perhitungan bertahap, bukan satu dosis yang berlaku sama untuk semua lahan.

i

Kedudukan metode FAO dan praktik eksisting

FAO digunakan sebagai rujukan prinsip pengelolaan hara dan keseimbangan nutrisi tanaman. FAO tidak menetapkan satu angka dosis pupuk nasional yang otomatis berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, website menggunakan pendekatan keseimbangan hara yang beracuan pada prinsip FAO. Istilah praktik eksisting berarti dosis atau kebiasaan pemupukan yang benar-benar digunakan di suatu lokasi dan dapat dijadikan pembanding. Pada versi website saat ini, dosis eksisting tidak diisi sebagai data wajib, sehingga sistem tidak menebak kebiasaan pemupukan lokal; yang dihitung otomatis adalah kebutuhan berdasarkan status hara, target hasil, dan parameter komoditas.

04.1

Prinsip perhitungan kebutuhan hara

Perhitungan dilakukan berurutan dari kebutuhan dasar tanaman hingga menjadi jumlah bahan pupuk.

1
Tentukan kebutuhan dasar komoditas

Setiap komoditas mempunyai nilai awal N, P₂O₅, K₂O, dan S serta target hasil awal. Nilai ini digunakan sebagai titik awal perhitungan pada kalkulator.

2
Sesuaikan dengan target hasil

Target hasil pengguna dibandingkan dengan target awal komoditas. Pada Kalkulator Sederhana/Pro, penyesuaian ini dibatasi antara 0,75 sampai 1,35 agar perubahan target tidak menghasilkan koreksi yang tidak terkendali.

3
Sesuaikan dengan status hara tanah

Status Sangat Rendah, Rendah, Sedang, Tinggi, dan Sangat Tinggi digunakan untuk menaikkan atau menurunkan kebutuhan hara dibanding kondisi sedang.

4
Periksa kondisi tanah

pH tanah serta status S dan Mg dapat memengaruhi kebutuhan pupuk atau kebutuhan pembenah tanah pada Kalkulator Sederhana/Pro.

5
Ubah kebutuhan hara menjadi bahan pupuk

Kebutuhan N, P₂O₅, K₂O, dan S dikonversi menjadi Urea, SP-36, KCl/MOP, dan ZA berdasarkan kadar hara masing-masing pupuk.

6
Hitung kebutuhan total lahan

Dosis per hektare dikalikan dengan luas lahan sehingga pengguna memperoleh kebutuhan pupuk untuk seluruh areal.

Kebutuhan hara = kebutuhan dasar komoditas × penyesuaian target hasil × penyesuaian status hara
04.2 · Penyesuaian status hara

Lima tingkat ketersediaan hara

Semakin rendah ketersediaan hara di tanah, semakin besar kebutuhan yang diperkirakan. Sebaliknya, status hara tinggi menurunkan kebutuhan tambahan.

Status haraFaktor penyesuaianMakna praktis
Sangat Rendah1,35Kebutuhan dinaikkan 35% dari kondisi sedang.
Rendah1,15Kebutuhan dinaikkan 15%.
Sedang / cukup1,00Menggunakan kebutuhan dasar setelah penyesuaian target hasil.
Tinggi0,75Kebutuhan diturunkan 25%.
Sangat Tinggi0,55Kebutuhan diturunkan 45%.
04.3 · Konversi menjadi bahan pupuk

Kadar hara pupuk yang digunakan dalam perhitungan

Setelah kebutuhan hara diketahui, jumlah bahan pupuk dihitung dari kandungan hara utama pupuk.

BahanKandungan yang digunakanPerhitungan
Urea46% NUrea = kebutuhan N ÷ 0,46
SP-3636% P₂O₅SP-36 = kebutuhan P₂O₅ ÷ 0,36
KCl/MOP60% K₂OKCl = kebutuhan K₂O ÷ 0,60
ZA24% S dan 21% NZA = kebutuhan S ÷ 0,24; N dari ZA diperhitungkan kembali.

Jika status S rendah, ZA dapat digunakan sebagai sumber sulfur. Nitrogen yang ikut diberikan melalui ZA dikurangkan dari kebutuhan N yang kemudian dipenuhi oleh Urea.

04.4

Pengaruh pH, sulfur, dan magnesium

Kondisi tanah tertentu memerlukan perhatian sebelum dosis pupuk utama diterapkan.

pH < 4,8

Tanah sangat masam

Kalkulator meningkatkan kebutuhan P sebesar 15% dan menggunakan acuan dolomit 1.500 kg/ha. Tujuannya adalah memberi perhatian pada kuatnya pengikatan P pada kondisi sangat masam.

pH 4,8–<5,5

Tanah masam

Kebutuhan P dinaikkan 10% dan digunakan acuan dolomit 1.000 kg/ha. Nilai ini merupakan bagian dari logika kalkulator dan tetap perlu disesuaikan dengan hasil analisis tanah.

Mg rendah

Perhatian pada Mg

Jika status Mg rendah, kalkulator memastikan acuan dolomit sedikitnya 500 kg/ha. Pada pH di atas 7,5, pengguna diberi peringatan mengenai kemungkinan terbatasnya ketersediaan beberapa unsur mikro.

04.5

Bagaimana praktik pemupukan eksisting dibandingkan?

Praktik eksisting sebaiknya dinilai dari jumlah hara yang benar-benar diberikan, bukan hanya dari kilogram pupuk.

Mengubah dosis eksisting menjadi suplai hara

Apabila dosis pupuk yang biasa digunakan di lapangan diketahui, kandungan haranya dapat dihitung dengan rumus berikut.

N dari Urea = dosis Urea × 0,46 N dari ZA = dosis ZA × 0,21 P₂O₅ = dosis SP-36 × 0,36 K₂O = dosis KCl/MOP × 0,60 S dari ZA = dosis ZA × 0,24

Makna perbandingan

Jumlah hara dari pemupukan eksisting dapat dibandingkan dengan kebutuhan hasil perhitungan. Selisih yang besar tidak otomatis berarti praktik lama salah atau rekomendasi baru pasti benar. Perbedaan harus ditelaah bersama hasil tanah/daun, riwayat hasil, varietas, musim, sumber pupuk, dan efisiensi aplikasi.

!

Jangan menebak dosis eksisting

Jika data pemupukan aktual petani atau kebun tidak tersedia, halaman ini tidak membuat angka perkiraan eksisting. Data tersebut harus berasal dari catatan lapangan atau wawancara yang dapat dipertanggungjawabkan.

04.6

Komoditas pada Kalkulator Sederhana dan Analisis Pro

Kalkulator saat ini memuat 42 komoditas. Setiap komoditas mempunyai target awal dan kebutuhan hara dasar yang berbeda.

✓

Target awal dapat diubah

Target yang tercantum bukan target yang harus dicapai setiap lokasi. Nilai tersebut adalah nilai awal perhitungan. Pengguna dapat menggantinya dengan target hasil yang lebih sesuai dengan varietas, umur tanaman, potensi lahan, dan pengalaman budidaya setempat.

KomoditasTarget awalNP₂O₅K₂OS
Padi Sawah 6 ton GKG/ha 120609015
Padi Gogo 4 ton GKG/ha 100558012
Jagung 8 ton pipilan/ha 1507010020
Kedelai 2 ton biji/ha 40806012
Kacang Tanah 3 ton polong/ha 35606012
Kacang Hijau 1,5 ton biji/ha 30555010
Ubi Kayu / Singkong 30 ton umbi/ha 1006016015
Ubi Jalar 20 ton umbi/ha 806014012
Kentang 25 ton umbi/ha 15010018020

Angka N, P₂O₅, K₂O, dan S dinyatakan dalam kg hara/ha dan merupakan nilai dasar yang digunakan oleh kalkulator sebelum penyesuaian target hasil dan status hara.

KomoditasTarget awalNP₂O₅K₂OS
Cabai 12 ton buah/ha 14010018020
Tomat 30 ton buah/ha 15010020020
Terung 25 ton buah/ha 1308016018
Mentimun 25 ton buah/ha 1008015015
Semangka 30 ton buah/ha 1109018018
Melon 25 ton buah/ha 1209019018
Labu / Gambas / Paria 20 ton buah/ha 908013015
Bawang Merah 10 ton umbi/ha 1209014025
Bawang Putih 8 ton umbi/ha 12010015025
Kubis / Kol 35 ton krop/ha 16010018025
Brokoli / Kembang Kol 15 ton bunga/ha 16010017025
Sawi / Pakcoy 20 ton segar/ha 1207012018
Selada 18 ton segar/ha 1006012012
Wortel 25 ton umbi/ha 1008016015
Buncis / Kacang Panjang 12 ton polong/ha 608010012

Angka N, P₂O₅, K₂O, dan S dinyatakan dalam kg hara/ha dan merupakan nilai dasar yang digunakan oleh kalkulator sebelum penyesuaian target hasil dan status hara.

KomoditasTarget awalNP₂O₅K₂OS
Pisang 30 ton buah/ha 1808030025
Jeruk 25 ton buah/ha 1607018020
Mangga 15 ton buah/ha 1206015015
Alpukat 12 ton buah/ha 1306016018
Durian 10 ton buah/ha 1507020020
Pepaya 40 ton buah/ha 1607022020
Nanas 45 ton buah/ha 1406022020

Angka N, P₂O₅, K₂O, dan S dinyatakan dalam kg hara/ha dan merupakan nilai dasar yang digunakan oleh kalkulator sebelum penyesuaian target hasil dan status hara.

KomoditasTarget awalNP₂O₅K₂OS
Kelapa Sawit TBM 1 tahun tanam/ha 1107014020
Kelapa Sawit TM 24 ton TBS/ha 1608022025
Tebu 90 ton tebu/ha 1809016025
Kopi 1,5 ton biji/ha 1206013018
Kakao 1,5 ton biji kering/ha 1206015018
Karet 1,5 ton lateks/ha 1005012015
Kelapa 2 ton kopra/ha 1005018020
Lada 1,5 ton lada kering/ha 1208016020
Tembakau 2 ton daun kering/ha 907016018

Angka N, P₂O₅, K₂O, dan S dinyatakan dalam kg hara/ha dan merupakan nilai dasar yang digunakan oleh kalkulator sebelum penyesuaian target hasil dan status hara.

KomoditasTarget awalNP₂O₅K₂OS
Rumput Gajah / Odot 80 ton hijauan/ha 2008018020
Alfalfa / Legum Pakan 8 ton hijauan kering/ha 409018020

Angka N, P₂O₅, K₂O, dan S dinyatakan dalam kg hara/ha dan merupakan nilai dasar yang digunakan oleh kalkulator sebelum penyesuaian target hasil dan status hara.

i

Khusus Kelapa Sawit TBM

Kelapa Sawit TBM tidak menggunakan target hasil panen seperti tanaman menghasilkan. Pada kalkulator, nilai awalnya dinyatakan sebagai tahun tanam. Karena itu, interpretasinya harus mengikuti umur tanaman dan rekomendasi budidaya sawit belum menghasilkan.

04.7

Komoditas pada WebGIS Status Hara

Perhitungan berbasis peta dibuat lebih terarah dan saat ini dibatasi pada padi sawah, jagung, dan kedelai.

KomoditasTarget awal WebGISN dasarP₂O₅ dasarK₂O dasarKelas status yang digunakan
Padi sawah6 ton GKG/ha1206090Rendah / Sedang / Tinggi
Jagung8 ton pipilan/ha15070100Rendah / Sedang / Tinggi
Kedelai2,5 ton biji/ha305060Rendah / Sedang / Tinggi

Pada WebGIS, faktor status hara disederhanakan menjadi 1,15 untuk status rendah, 1,00 untuk sedang, dan 0,80 untuk tinggi. Penyesuaian target hasil dibatasi antara 0,85–1,20. pH, S, dan Mg belum digunakan dalam perhitungan berbasis peta.

!

Mengapa hasil kedelai dapat berbeda antara Kalkulator dan WebGIS?

Kalkulator Sederhana/Pro menggunakan target awal kedelai 2 ton/ha dengan kebutuhan dasar 40 kg N, 80 kg P₂O₅, 60 kg K₂O, dan 12 kg S per hektare. WebGIS menggunakan target awal 2,5 ton/ha dengan kebutuhan dasar 30 kg N, 50 kg P₂O₅, dan 60 kg K₂O per hektare. Selain itu, pengelompokan status hara dan batas penyesuaian target hasil juga berbeda. Oleh sebab itu, kedua hasil harus dibaca sesuai konteks masing-masing dan tidak diharapkan selalu identik.

04.8

Contoh sederhana perhitungan beracuan FAO

Contoh berikut menunjukkan urutan hitung untuk padi sawah pada Kalkulator Sederhana/Pro, tanpa koreksi pH atau ZA.

Komoditas: Padi sawahTarget: 7 ton GKG/haStatus N: RendahStatus P: SedangStatus K: TinggipH: 5,8
Penyesuaian target = 7 ÷ 6 = 1,167 N = 120 × 1,167 × 1,15 = 161 kg N/ha P₂O₅ = 60 × 1,167 × 1,00 = 70 kg/ha K₂O = 90 × 1,167 × 0,75 = 78,75 kg/ha Urea = 161 ÷ 0,46 = 350 kg/ha SP-36 = 70 ÷ 0,36 ≈ 194,4 kg/ha KCl/MOP = 78,75 ÷ 0,60 = 131,25 kg/ha

Contoh ini hanya menjelaskan mekanisme hitung. Dosis lapangan tetap perlu dinilai bersama kondisi tanah, sumber air, varietas, musim, dan rekomendasi setempat.

05 · Alur Penggunaan

Dari pemilihan lahan sampai rekomendasi kebutuhan pupuk.

Alur berikut menggambarkan tahapan yang dialami pengguna ketika menilai suatu petak sawah melalui WebGIS Status Hara.

Pilih wilayah

Tentukan provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan yang akan ditinjau. Informasi desa digunakan apabila tersedia.

Tampilkan petak sawah

Peta menampilkan petak-petak sawah pada wilayah yang dipilih sehingga pengguna dapat melihat persebaran lokasi secara spasial.

Pilih petak yang akan dianalisis

Klik petak pada peta untuk melihat informasi luas dan status hara N, P, serta K pada lokasi tersebut.

Baca status hara

Status hara menunjukkan tingkat ketersediaan unsur pada tanah, dari Sangat Rendah hingga Sangat Tinggi.

Pilih dasar rekomendasi

Gunakan acuan Permentan apabila komoditas dan ruang lingkupnya sesuai, atau gunakan pendekatan keseimbangan hara sebagai pembanding ilmiah.

Hitung dosis dan kebutuhan total

Sistem menampilkan dosis pupuk dalam kg/ha dan menghitung kebutuhan total berdasarkan luas petak yang dipilih.

Verifikasi dengan kondisi lapangan

Sebelum diterapkan, hasil perlu dikaji bersama informasi tanah atau daun, varietas, musim, target hasil, serta praktik budidaya setempat.

06 · Mutu Data dan Validasi

Hal-hal yang perlu diperiksa sebelum rekomendasi digunakan.

Mutu rekomendasi sangat dipengaruhi oleh ketepatan lokasi, luas lahan, status hara, dan kelengkapan informasi wilayah. Beberapa pemeriksaan berikut penting untuk menjaga agar hasil tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Status hara, luas, dan informasi wilayah harus mengacu pada petak yang sama. Jika terjadi ketidaksesuaian antara lokasi pada peta dan informasi yang ditampilkan, rekomendasi tidak boleh digunakan sebelum sumber data diperiksa kembali.
Nilai luas harus lebih dari nol dan sebaiknya dibandingkan dengan kondisi nyata di lapangan. Pada data yang dianalisis terdapat sedikitnya satu petak dengan luas nol, sehingga petak seperti ini perlu diperiksa sebelum hasil kebutuhan total digunakan.
Informasi desa belum tersedia pada data yang dianalisis. Oleh karena itu, pemilihan wilayah yang paling rinci saat ini sebaiknya dipahami sampai tingkat kecamatan, kecuali data desa telah dilengkapi pada pembaruan berikutnya.
Kesamaan jumlah petak pada setiap kelas N dan P tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan. Namun, untuk kajian ilmiah yang lebih mendalam, pola tersebut sebaiknya dikonfirmasi terhadap sumber pemetaan status N dan P agar asal klasifikasinya jelas.
Dosis yang bersumber langsung dari acuan resmi harus dibedakan dari dosis yang dihitung berdasarkan target hasil dan status hara. Pada sistem saat ini, rekomendasi Urea berbasis target hasil masih merupakan estimasi, sedangkan pendekatan beracuan FAO merupakan metode keseimbangan hara dan bukan satu dosis baku yang berlaku untuk seluruh wilayah.
07 · Alat Bantu Interaktif

Coba memahami pengaruh status hara, target hasil, dan luas lahan.

Alat bantu berikut disediakan untuk tujuan pembelajaran dan penelusuran metode. Nilai yang dimasukkan hanya digunakan untuk perhitungan pada halaman ini dan tidak mengubah data utama website.

Simulasi rekomendasi pupuk

Pilih komoditas, target hasil, status fosfor dan kalium, serta luas lahan untuk melihat perkiraan kebutuhan Urea, SP-36, dan KCl/MOP.

Konversi kebutuhan hara menjadi pupuk

Masukkan kebutuhan N, P₂O₅, dan K₂O untuk mengetahui jumlah ekuivalen Urea, SP-36, dan KCl/MOP berdasarkan kadar hara pupuk.

Checklist sebelum menggunakan rekomendasi

Gunakan daftar berikut untuk memastikan hasil dibaca bersama informasi lapangan yang memadai.

08 · Batas Interpretasi

Gunakan hasil sebagai dasar pertimbangan, bukan sebagai kepastian tunggal.

Rekomendasi pemupukan perlu dibaca sebagai hasil perhitungan berdasarkan informasi yang tersedia. Kondisi tanah dan tanaman di lapangan tetap menjadi bagian penting dalam penetapan dosis akhir.

✓

Dapat digunakan untuk

penilaian awal kebutuhan pupuk, perbandingan pendekatan rekomendasi, penelusuran status hara setiap petak, dan perhitungan kebutuhan total berdasarkan luas lahan.

i

Informasi lapangan tetap diperlukan

Analisis tanah atau daun, pH, tekstur, bahan organik, varietas, umur tanaman, target hasil, musim, dan intensitas budidaya dapat memengaruhi kebutuhan pupuk aktual.

×

Bukan jaminan hasil panen

Hasil perhitungan tidak menjamin produktivitas tertentu. Respons tanaman dipengaruhi banyak faktor lain, termasuk ketersediaan air, cuaca, kesehatan tanaman, sifat tanah, dan pengelolaan budidaya.

!

Bedakan rekomendasi resmi dan estimasi

Pada sistem saat ini, kebutuhan nitrogen untuk padi, jagung, dan kedelai masih dihitung dari target hasil. Untuk komoditas di luar cakupan langsung Permentan No. 13 Tahun 2022, hasil tidak boleh disebut sebagai dosis resmi regulasi.

09 · Rujukan Ilmiah dan Teknis

Sumber acuan yang digunakan dalam penyusunan metode.

Rujukan berikut merupakan sumber yang telah digunakan pada modul kalkulator untuk mendukung prinsip pemupukan berimbang, pengelolaan hara, dan interpretasi hasil analisis tanah.

i

Rujukan perlu disesuaikan dengan kondisi lokal

Sumber ilmiah memberikan dasar metodologis, tetapi penerapan di lapangan tetap perlu mempertimbangkan rekomendasi setempat, hasil analisis tanah atau daun, pengalaman budidaya, dan ketentuan teknis yang berlaku.